“Pajak 2,8 Miliar untuk Buruh Jahit: Ketika Sistem Lebih Fantasi dari Drama Korea”

dipost.co – Teman-teman, ada berita viral dari Pekalongan. Seorang buruh jahit, Mas Ismanto, tiba-tiba dapat surat cinta dari kantor pajak. Isinya? Tagihan Rp 2,8 miliar. Dua koma delapan miliar, bos!

Buruh jahitnya panik, jelas. Lha wong pendapatan sehari mungkin cuma cukup buat bayar listrik, makan, sama beli kopi sasetan. Dan lucunya, rumahnya di ujung gang selebar satu meter. Mobil masuk? Lupakan. Ojek online aja kalau nganter barang harus parkir di dunia sebelah.

Bacaan Lainnya

Menurut George Ritzer (2011) dalam The McDonaldization of Society, salah satu ciri sistem modern adalah “predictability” alias semuanya terukur dan bisa diprediksi. Tapi ini kayaknya sistem pajak kita malah masuk kategori “unpredictable” — yang bisa memprediksi cuma dukun sama penulis sinetron.

Bayangin, petugas pajak datang, nunjukin surat, nilainya Rp 2,8 M. Buat buruh jahit, itu bukan angka pajak, itu angka undian lotre yang di-mute kebahagiaannya. Bahkan dia sampai bilang, “Saya nggak pernah punya usaha besar, apalagi beli kain miliaran rupiah.” Lah iya, kalau pun dia beli kain miliaran, dia udah jadi raja distro di dunia, bukan buruh jahit.

Menurut teori identity theft dari Newman & Clarke (2003), pencurian identitas ini bisa bikin korban bukan cuma rugi materi, tapi juga stres dan trauma sosial. Mas Ismanto ini jelas masuk korban: hidupnya sederhana, tapi sistem tiba-tiba nganggep dia sultan.

Kepala KPP Pratama Pekalongan bilang, ini bukan penagihan, cuma klarifikasi data. Nah, ini menarik. Kalau klarifikasi modelnya bikin orang nyaris kena serangan jantung, mending ganti istilahnya jadi “uji adrenalin gratis”.

Mas Ismanto pun berharap identitasnya nggak lagi disalahgunakan. Saya juga berharap, kalaupun disalahgunakan, minimal buat beli sesuatu yang keren — kayak kapal pesiar atau pulau pribadi — jadi kalau diperiksa, dia bisa bilang, “Ya udah sekalian aja saya nikmatin.”

Akhirnya, kasus ini jadi pelajaran buat kita semua: jaga data pribadi. Karena di era digital, kata Shoshana Zuboff (2019) dalam The Age of Surveillance Capitalism, data itu lebih berharga dari emas. Dan kalau sampai bocor, siap-siap aja dapet kejutan… yang kadang lebih mengerikan daripada mantan ngajak balikan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *