“Daftar Merah Kampus: Antara Publikasi, Prestasi, dan Prestasi Copy-Paste”

Gue tuh awalnya kira “Bendera Merah” itu cuma ada di lomba 17-an. Bedanya, kalau lomba tarik tambang bendera merah itu tanda menang, kalau di dunia kampus… tanda “eh, integritas riset lo kayaknya perlu diservis, deh.”

Jadi ceritanya ada Research Integrity Risk Index 2024. Ini kayak “Raport Kejujuran” buat 1.000 universitas di seluruh dunia yang rajin publikasi ilmiah. Yang bikin ini, Profesor Lokman Meho, mungkin sambil mikir, “Daripada ranking kampus cuma adu jumlah jurnal, mending kita cek nih, jurnalnya beneran ilmiah apa cuma ngarang kayak status mantan.”

Bacaan Lainnya

Dan hasilnya? BOOM! Ada 13 kampus di Indonesia yang masuk daftar merah dan oranye. Dan bukan kampus abal-abal, bro. Ini kampus papan atas, yang kalau orang tua nyebut namanya biasanya sambil bangga: “Anak saya kuliah di…” lalu nyebut UI, UGM, Airlangga, Unhas, UNS, dan gengnya. Nah, sekarang nyebutnya mungkin sambil batuk-batuk kecil.

Kategori paling serem namanya Bendera Merah. Itu kayak warning, “Woy, hati-hati, riset lo ada bau-bau aneh!” Kalau ini lomba balap motor, bendera merah berarti balapan dihentikan. Kalau di riset, artinya “stop dulu deh sebelum makin ngawur.”

Indikatornya ada dua. Pertama, R Rate — jumlah artikel bermasalah per 1.000 publikasi. Intinya banyak yang salah metodologi, etika, atau kepenulisan. Kedua, D Rate — persentase publikasi di jurnal yang udah di-kick dari Scopus atau Web of Science. Ibaratnya, skripsi lo dimasukin ke grup WA, tapi besoknya adminnya left-in lo.

Nah, ini dia lima kampus yang dapet Bendera Merah. Pertama, Binus University di peringkat 11 dunia — gokil sih, jarang-jarang Indonesia juara, tapi ini juara yang bikin keringet dingin. Kedua, Universitas Airlangga peringkat 40. Ketiga, Universitas Sumatera Utara peringkat 49. Keempat, Universitas Hasanuddin peringkat 69. Dan kelima, Universitas Sebelas Maret peringkat 86.

Sisanya masuk kategori “Risiko Tinggi” alias oranye. Jadi kayak lampu lalu lintas: belum merah, tapi bentar lagi kalau nggak hati-hati, wassalam.

Publik langsung rame. Ada yang bilang ini wake-up call, ada yang bilang ini cuma bikin kampus malu. Tapi menurut gue, yang penting jangan panik. Namanya juga bendera merah… taro aja di dinding rektorat, bilangin ke tamu: “Oh itu? Cuma hiasan Agustusan, Pak.”

Tapi serius, pesan moralnya jelas: jangan cuma kejar banyaknya publikasi, tapi juga kualitasnya. Soalnya, kalau nggak, nanti generasi masa depan bukan cuma bingung nulis skripsi… tapi bingung bedain mana riset beneran, mana riset kayak resep tahu bulat — dadakan, 500-an, digoreng mendadak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *